Aku telah Ber-Kurban

Kamis, 24 September 2015

Kurban : Korban : n, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti persembahan kepada Tuhan, menyatakan kebaktian, kerelaan hati dan sebagainya orang yang menderita kecelakaan. Kata serapan dari bahasa arab tersebut memiliki arti yang mendalam pun juga jika ditilik dari segi sejarahnya. Tapi saya tidak akan mengupas mengenai sejarah dari cerita qurban dalam agama Islam, melainkan saya akan sedikit dan berusaha mencari kebaikan dalam memaknai kata “kurban” tersebut. Yang dalam bahasa Indonesia sering kita pakai sehari-hari menjadi menjadi sebuah kata “salah kaprah”.

Salah Kaprah
Korban yang sering dimaknai kebanyakan orang hanya sebgai sebuah kata untuk mengungkapkan seorang yang tengah mengalami penderitaan dari sebuah kecelakaan atau sebuah kerugian, yang ternyata dalam KBBI kata Korban sama halnya dengan Kurban yang memiliki makna yang lebih luas. Sebuah bentuk pernyataan kebaktian pada Tuhan, sebuah bentuk sikap kerelaan atas sebuah persembahan, bentuk ungkapan cinta. Makna tesebut tentunya bukan makna yang remeh temeh, sebuah sikap menyatakan, dengan kerelaan hati, yang berarti pula memang tulus. Tulus juga berarti sama sekali tidak meminta untuk kembali, wong Kurban sendiri adalah sebuah bentuk balasan cinta, sebuah sikap timbal balik dari apa yang sudah deberikan.
Akan menjadi sangat lucu ketika sudah diberi cinta, lalu membalas cinta tersebut dengan Kurban, kok masih minta balasan cinta lagi ? Perkara setelah ber-Kurban akan diberikan cinta lagi kan sudah menjadi soal yang sangat berbeda.

Aku sudah ber-korban/kurban
“ Aku sudah berkorban, tapi kamu malah... ”. Potongan percakapan dari sebuah peristiwa yang terjadi oleh hubungan sepasang pemuda yang tengah mabuk “cinta?”. A yang menganggap dirinya telah melakukan segala apa untuk sebuah balasan yang ia inginkan kecewa setengah mati saat B ternyata tidak memberikan sesuai dengan keinginannya, dan A pun menggapnya sebagai sebuah pengorbanan. Adakah A memenuhi klasifikasi sebagai penderita kecelakaan ? ataukah A bisa dikatakan sebagai orang yang tengah menderita sebuah kerugian ?
Mungkin A bisa memenuhi klasifikasi sebagai orang yang tengah menderita sebuah kerugian, jika saat ia memberikan dan melakukan segala apa kepada B memang berdasar pada suatu motif ekonomi. Yang dalam dalilnya mengeluarkan modal dengan serendah rendahnya, dan meraih keuntungan sebesar besarnya, atau paling tidak impas. Tapi apakah sebuah perasaan akan sah jika dilandasi dengan sebuah motif ekonomi ? kan katanya cinta itu tulus toh ? Jika tulus kok merugi ?
Pula jika ditilik dari segi arti yang satu lagi, Persembahan kepada Tuhan, menyatakan kerelaan hati. Hlo, sebenarnya kita BerKurban pada siapa toh ? pada B atau Tuhan ? Jika pada Tuhan, belum sempat kita berkurban kita sudah diberikan cinta toh oleh Tuhan ? lalu apa itu cinta ? dan kenapa kita selalu mengatakan kita telah berkurban ? atau BerKORBAN ?


untuk selanjutnya

Antara Aku dan Ibu

Jumat, 18 September 2015

Antara Aku dan Ibu

Sebuah hubungan yang belum pernah aku benar benar memahaminya. Hingga akhirnya sampai pada suatu titik sebuah perenungan, aku menemukan suatu penemuan hubungan yang agaknya lebih mesra dari pacaran, lebih indah dari sebuah cerita didalam dongeng, lebih mengetarkan dari novel novel yang pernah aku baca sebelum sebelumnya.

Matanya saat marah membuat jengkel dan membikin ingin tertawa terpingkal pingkal. Bentuk perhatian yang membikin marah setiap harinya. Dan posisi selalu salah saat apa saja yang aku lakukan tak sesuai dengan keinginannya. Seperti pada kemarahannya saat aku bohong, pun juga saat aku jujur.
Pernah suatu ketika aku berbohong kepada Beliau karena menghindari kemarahan Beliau, karena memang hal yang aku lalukan tidak diperkenankan oleh beliau, maka itulah aku berbohong, tapi Beliau mengetahuinya dan marah besar sampai aku dan beliaupun sama sama menangis, dan aku berjanji pada Beliau untuk tidak berbohong. Akhirnya aku selalu jujur pada Beliau, tapi pada saat itu juga Beliau tetap saja marah, karena memang lagi lagi hal yang aku lakukan tak seperti yang beliau kehendaki. Sampai aku berpikir, apakah aku hanya robot dari Ibu. Tapi ternyata tidak, ternyata aku yang kelewat spaneng, kurang guyon. Aku selalu mengganggap kemarahan Beliau sebagi sebuah kebencian, tapi ketika sudut pandangnya diubah dari sudut yang berbeda, bahwa kemarahan Beliau adalah sebuah cinta, maka semua tiba tiba berubah seketika. Saat mata beliau mlorok marah marah karena aku berbuat hal yang Beliau tidak inginkan, dan aku jujur mengatakan ketika itu pula mlorok Beliau terlihat sexy, kadang juga lucu, sampai aku terpingkal pingkal melihatnya. Saat itu pula kami selalu membicarakan setiap peristiwa dengan baik baik, membicarakan dengan kesadaraan dan kesedian untuk saling menerima. Walau memang aku akan selalu kena marah terus terusan. Karena soalnya cara pandang hidup antara aku dan Ibu selalu tak sama. Tapi setelah semua kemarahan Ibu aku jadikan Cinta dan bukan Kebencian, semaua lebih baik, lebih tidak spaneng, lebih asyik. Ternyata Beliaupun butuh belajar menjadi seorang Ibu, dan aku pun belajar menjadi seorang anak, dari situlah karena aku tau kami sedang sama sama belajar, agaknya memang aku juga harus berani bersabar untuk Beliau . Maka kami sekarang lebih mencintai dalam diam, dalam sebuah bait doa yang hanya Tuhan saja yang tau. Dalam sebuah tidur yang kadang diam diam kupandangi garis wajahnya yang lelah, yang renta namun tak pernah terlihat payah.
Karena memang Cinta lah yang mampu mengubah sebuah sudut pandang. Hal yang sebelumnya menyebalkan, bimsalabim menjadi sebuah kesedian untuk saling menerima dan berbagi dengan kemarahan yang dibumbui cinta dan pun juga cemburu.

untuk selanjutnya

teko nek pas butuh

Selasa, 01 September 2015

teko nek pas butuh

Beberapa waktu lalu saya menjemput kawan lama yang saya kenal saat masih memakai seragam putih abu abu, sudah cukup lama kami tak bertemu dan berbincang banyak hal, mungkin ada kalau 4 bulan. Tapi pada kesempatan itu saya tidak banyak berbincang dengannya, karena kebersamaan kami hanya habis diatas motor dan di pasar-pasar tradisional untuk memenuhi tugas kuliahnya, sebab itu juga dia bersedia mampir ke solo. Memang tidak banyak perbincangan serius yang terjadi pada kami saat itu, tapi ada pertanyaan yang menggangu pikiran saya sampai saat ini, dan membuat saya terus mencari jawaban akan pertanyaan sederhana tersebut.

Teko nek pas butuh / Datang pas ada butuhnya saja
Saat itu pertanyaannya terlontar diatas motor, “ Eh, Tem, kowe setuju ra karo ungkapan, ‘teko kok mung nek pas butuh tok’ ? ( eh , tem kamu setuju gak sama ungkapan , datang kok pas cuma butuh aja) . pertanyaan itu saya jawab asal dan cukup cepat, karena saya sendiri sedang berkonsentrasi pada jalan “ aku gak setuju” kira kira seperti itu saya menjawab pertanyaan tersebut, asal, tanpa dipikir ataupun dipertimbangankan. Tapi sampai sekarang masih lekat pada ingatan dan sering mengganggu pikiran saya sendiri. Sampai saya nekat menuliskan ini. Mungkin sedikit berlebihan ketika saya mengatakan bahawa ungkapan ini agaknya mampu akan mempengaruhi seseorang dalam sikapnya menolong manusia-manusia lain karena gagap dengan ungkapan tersebut..

Psikologi seseorang agaknya memang banyak terpengaruh oleh lingkungan sosial, ungkapan yang sedang “ngetren” dan lain sebagainya. Salah satunya adalah ungkapan tersebut, memberi dampak psikologi yang menurut saya sendiri berpengaruh banyak dalam kegiatan tolong menolong, sedangkan tanpa adanya kegiatan saling membantu, manusia mampu apa.

Takut meminta tolong
Ungkapan tersebut juga sempat masuk dalam pikiran saya sebagai ungkapan yang bermuatan negatif, karena banyak yang mengatakan, ungkapan itu terkesan “memanfaatkan” . Tapi baru baru ini kata “memnfaatkan” terdengar sebagai kata kerja yang bermuatan posif ditelinga saya, karena kata tersebut berdasar kata manfaat, yang berarti guna atau paedah, yang diimbuhi me- kan- yang berarti membuat jadi, jadi jika diartikan membuat jadi guna atau paedah. Jika begitu, berarti memanfaatkan adalah suatu kata kerja yang baik, saat orang lain datang pada kita dan memanfaatkan kita, berarti kita sedang dijadikan sesuatu yang berguna, memiliki nilai guna, tapi dalam konteks perbuatan yang tidak menyusahkan orang lain.
Dan bukankah justru kita senang karena kita sedang dipergunakan untuk hal baik, mempunyai paedah baik. Tapi ketika ungkapan itu diberi kesan “memanfaatkan” dalam muatan negatif, saya sendiri jadi takut, takut minta tolong, takut jika malah dipersangkakan buruk oleh orang yang saya datangi untuk saya mintai tolong, takut juga di hardik, “datang kalau cuma butuh saja” atau ”kamu cuma akan memanfaatkan kebaikan saya, kan ? “ itu yang membuat saya ngeri.

Saya sendiri hampir sering, beberapa teman yang tidak begitu akrab tiba-tiba datang dan meminta bantuan, yang saya rasakan malah senang, karena saya merasa bahwa saya masih ada alasan untuk tetap melanjutkan hidup didunia yang fana.

saling tolong menolong
Kebudayaan yang hampir lebur di rung ruang anak muda, kebudayaan yang luntur karena banyak ketakutan untuk saling menolong. Entah siapa yang menyelundupkan kebudayaaan suuzon pada setiap orang yang datang untuk meminta tolong. Bukankah ketika seseorang datang pada kita untuk meminta tolong berarti ia percaya pada kita, bahwa kita berkopeten untuk menolong ia pada permasalahan-permasalahan yang sedang ia hadapi.
Ini memang tinggal permasalahan sudut padang seseorang. Meamang apa guna nya seseorang datang jika ia tidak sedang butuh. Butuh untuk menuntaskan rindunya, butuh untuk bercerita, menyelesaikan segala kebuntuannya dalam menyelesaikan masalah, atau hanya sekedar butuh cerita lucu untuk menghibur hidup yang celaka.

Karena jika saling tolong menolong dalam segi kebaikan terus dilakukan maka hidup akan lebih hidup, karena memang tugas kehidupan atau yang hidup adalah menghidupi. Seperti nyala lilin yang menghidupi yang menghidupkannya dan sekitar dari nyala lilin tersebut.
untuk selanjutnya

MARAH...

Minggu, 30 Agustus 2015

Marah...

Marah dalam panggung sandiwara memerlukan sebuah tingkat kesadaran diri. Karena jika seorang aktor saat menyampaikan kemarah lepas kendali dan kehilangan kesadaran dirinya, maka akan berakibat fatal pada sebuah pementasan. Bisa saja aktor tersebut akan merusak sebuah pementasan, dengan menghancurkan properti, mengulur durasi pementasan atau bahkan mamakan dialog lawan mainnya. Maka memang didalam sebuah pementasan dibutuhkan sebuah kesadaran diri, meskipun dalam menyampaikan kemarahan.

Pula dalam dunia nyata, hemat saya, dalam kehidupan sehari-hari, sebuah kesadaran diri amatlah penting, karena jika tanpa adanya kesadaran akan banyak hal yang lepas dari kendali diri kita dan mungkin memang akan berakibat buruk, dalam diri kita sendiri maupun orang lain. Marah merupakan salah satu metode sosial, merupakan sebuah sikap, aksi reaksi. Yang dalam hal ini memerlukan sebuah kesadaran dan tingkat pengertian marah bukan sebuah tujuan, melainkan adalah metode, jalan, ataupun cara dalam menyikapi peristiwa. Maka dalam memperoleh sebuah tujuan dari marah, tingkat kesadaran seorang pribadi amatlah diperlukan, agar saat marah tidak akan menimbulkan bekas luka yang terkenang selama-lamanya. Yang dikarenakan tak adanya kesadaran sehingga kehilagan pengendalian diri, megakibatkan tidak tepatnya sikap maupun perkataan yang diucapkan saat marah.

Diperlukan pengetahuan yang lebih dalam memahami marah adalah jalan, cara ataupun metode dan bukan tujuan itu sendiri. Tanpa adanya pengertian tersebut, marah akan hanya menjadi sebuah marah, dan bahkan akan menjadi akibat buruk karena marah akan sangat melelahkan diri sendiri karena jengkel yang disebabkan oleh diri sendiri, mengakibatkan rasa sakit yang tak kunjung sembuh oleh penderitanya.
untuk selanjutnya

adalah

Aku cinta padamu. Ia adalah sebuah pernyataan, bukan pertanyaan, yang memang toh tidak pernah akan membutuhkan jawaban. Pernyataan akan selesai sesudah terlontarkan, dan memang pernyataan tak menuntut apapun. Maka dalam menyatakan cinta toh memang tidak perlu ada penolakan, makian, atau apapun itu. Karena memang pernytaan berdiri tegak sendiri.
Lain soal jika dibelakangnya akan ada sebuah pertanyaan, sebuah konsekuensi logis jika muncul penolakan. Tapi pernyataan adalah hal berbeda, bagi saya ia merupakan prinsip, akan terus ditaruh dalam sanubari terdalam. Pula pada penyataan cinta, ia tak membutuhkan timbal balik. Toh kalau ia harus mencintai sediri bukanlah hal yang menakutkan, karena memang itu adlah sebuah prinsip, bahkan jika dibencipun, bukan menjadi soal, karena memang cinta mampu tumbuh sendiri tanpa ada dukungan dari siapapun.
untuk selanjutnya

ANI

Senin, 03 November 2014



Ani

Mata Ani terpaksa terpejam saat ia membaringkan tubuh di dalam kamarnya, suara ribut ribut kedua oarang tuanya masih terdengar benar dalam kamarnya meskipun sudah semua pintu ditutup rapat. Ani sudah benar benar jenuh, mungkin juga terbiasa dengan suara ribut ribut itu. Hingga ia selalu hafal dengan tata urutan peristiwa pertikaian tersebut, setelah ribut ribut itu Ibunya akan menangis karena mungkin ditampar, ditendangan atau dibanting oleh ayahnya yang baru saja pulang karena kalah judi, juga mungkin karena tidak diberikan uang oleh Ibunya untuk sekedar  membeli minuman atau karena sifat cemburu ayahnya, setelah itu Ayah menyesal, Ayah ikut menagis, memohon maaf berjanji tidak akan mengulangi, terus seperti itu, berulang dan hampir tidak pernah terjadi perbedaan. Saat umur 15 tahun Ani selalu menangis acapkali ayahnya pulang sempoyongan pagi hari dan membawa seorang perempuan yang dia hafal betul itu bukan ibunya. Tapi baru baru ini di usianya yang 16 tahun, Ani sudah terbiasa dengan kelakuan ayahnya tersebut, kadang Ani juga tidak sengaja menonton adengan langsung filim porno diruag tamunya.

“ kenapa kita tidak meninggalkan  Ayah saja, Bu ? “ Ani menghampiri Ibunya yang sedikit memar di bagian pipi dan ayahnya kali ini tidak menangis, langsung saja pergi dengan membawa handphone Ibu Ani yang sepertinya akan dijual.

“ Ibu tidak tega meninggalkan laki laki sebodoh itu, nak, jika dia kita tinggalkan dia mau jadi apa ? paling kalau tidak mati OD, gila, atau malah gantung diri “

“ Tapi jika tidak Ibu tinggalkan, apa Ibu tahan dengan keadaan seperti ini ? lihat pipi ibu merah lagi bekas ditampar Ayah!! kalau seperti ini terus, mungkin Ibu yang mati dipukuli ayah, atau jangan jangan Ibu yang akan bunuh diri karena tidak kuat dengan sikap Ayah “

“ hehe kamu itu, tidak mungkin Ibu bunuh diri menghadapi pria yang sedang bodoh itu, dan pula Ibu masih cinta terhadap Ayahmu. Ibu yakin semua akan kembali seperti  saat kamu berumur 13 tahun itu, semua baik baik saja.”

“ apa maksut, Ibu ? “

“ Ayahmu hanya sedang memasuki sebuah fase, dan Ibu yakin semua akan berlalu sesegera mungkin, cah ayu. Ibu tidak akan menyerah, Ibu akan selalu mencoba membuat Ayahmu seperti sediakala waktu ibu pertama kenal dia, lembut, penyayang, aaahh… Ibu jadi ingat masa pacaran itu”

“ Sampai kapan ? “

“ Sampai Ibu sudah ingin menyerah , saat Ayahmu berani main tangan padamu “

“ Ah terserah Ibu “

Ani mininggalkan Ibunya yang masih memiliki muka memar, Ani sampai sekarang tak habis pikir dengan sikap Ibunya yang masih saja menngenggam kesetiaan itu. Di prinsip Ibunya, yang pernah dia ceritakan pada Ani : Ibu akan merasa menyesal jika Ibu hanya menemani ayahmu saat dia dalam kondisi menjadi manusia, Ibu juga harus menemani ayahmu saat seperti ini, saat ia sedang kerasukan setan. Memiliki Ibu dengan sikap setia seperti itu Ani kadang memiliki rasa bangga juga. Bagi Ani Ibunya adalah sosok yang menyerupai Bumi, yang saat dinjak, diungkit akan tetap saja menumbuhkan pohon dengan rasa sayangnya, bahkan bumi mampu menumbuhkan pohon yang hampir mati itu dengan airnya. Bagi Ani, teladan itu akan terus dipeganggnya. Memang sosok perempuan seperti Ibu Ani yang terkesan bodoh itu, dimasa ini yang sudah hampir hilang dari peradaban Bumi, seorang perempuan yang memiliki kelapangan seluas semesta, kesabaran seluas samudra. Tapi kadang sikap Ibunya itu memberikan kekhawatiran tersendiri, seperti yang pernah diungkapkannya bisa saja Ibunya meningal dunia oleh kelakuan Ayahnya yang suka bermain tangan. Hal ini sebenrnya hal baru bagi Ani dahulu Ani masih ingat betul Ayahnya adalah sosok yang sangat menyayangi keluarga sampai saat usaha ayahnya bangkrut total. Ayahnya memang seorang yang sangat mencintai dunia, sebab itulah Ayahnya stres berkepanjangan saat mengetahui usahanya bangkrut, belum selesai sampai disitu, tekanan dari keluarga besar Ibu Ani, karena Ayah Ani diam diam mengadaikan tanah warisan dari Eyang keluarga Ibu Ani yang semestinya tanah tersebut dibagikan kepada keluarga yang berhak. Sekarang semua pihak keluarga menuntut tanah itu harus segera ditebus. Bertambah lagi beban yang harus ditanggung oleh keluarga Ani.

Dan juga ada hal lain lagi yang membuat muncul hobi baru Ayahnya yang sekarang sedang ditekuninya selama satu tahun belakangan ini : main serong. Saat itu kondisi keuangan keluarga Ani sangat semrawut bahkan sampai hampir diusir dari kontrakan. Ketika itu juga Ibu Ani mempunyai insiatif meminjam uang kepada seorang teman baik yang diketahui Ayah Ani sebagai mantan pacar Ibu Ani semasa masih berkuliah, tapi sialnya saat bertemu meminjam uang Ayah Ani secara tidak sengaja melihat pertemuan itu. Sejak saat itu Ayah Ani menjadi lebih emosional dan mungkin itulah alsannya Ayah Ani main serong sebuah bentuk balas dendam. Hal itu juga yang memicu terjadinya pemukulan kepada Ibu Ani, saat ibu Ani pualng sedikit sore Ayah Ani selalu curiga dan memukuli Ibu Ani, walau Ibu Ani sudah bersumpah tidak bertemu lelaki itu lagi sejak saat itu, mungkin itulah bentuk cinta Ayah Ani kepada Ibu Ani : cemburu, tetapi terlewat batas.

“ asallamualaikum… “ suara terdengar dari pintu depan.

“ waalaikumusalam , ya sebentar… “ Ani segera bergegas membukakan pintu.

“ ini betul rumah bu Narti ya ? “

“ ooh iya, Pak , ada apa ya ? “

“ begini dek, ini ibu adek dirumah sakit, tadi terserempet mobil saat menghindari I motor di gang depan”  mata Ani terbelalak, Ani panik sekali.

“ sekarang ibu dimana ? keadaannya bagaimana ? bagaimana, Pak ? “  Ani menangis karena ia panik, sedih, marah dan banyak lagi perasaan yang bercampur.

“ Ibu tidak papa, Dek, sekarang dirumahsakit harapan jaya “

Walaupun mendengar kata kata “ tidak papa” Ani tetap saja panik sekali, ia bergegas ke rumahsakit. Diumurnya yang hampir 17 tahun, ayahnya yang sekarang entah dimana, ia seorang anak tunnngal, dan ibunya saat ini terbaring dirumahsakit, lengkap sekali rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Dalam perjalannan kerumah sakit penyesalan Ani memuncak, kenapa saat Ibunya meminta tolong untuk mengantarkan ke apotik membeli obat untuk gusinya yang berdarah akibat tamparan ayahnya tadi ia malah menolak. Dalam penyesalannya mungkin tadi jika Ani yang membeli obat atau mengantar ibunya, kejadian ini tidak akan terjadi, tapi sekarang semua hanya tinggal penyesalaan, naskah sudah terjadi dan mana mungkin pementasan diatas panngung diulangi lagi dan jika mungkin mampu diulangi pasti juga tidak sesuai keinginan, karena keinginan memiliki sifat dasar bertambah. Sampai dirumah sakit Ani lega Ibunya ternyata hanya lecet lecet, dan yang menyerempet bertanggungjawab membayar pengobatan Ibunya. Saat itu tanpa dikoordinasi oleh Ibunya dia memberikan pesan singkat lewat telefon genggam kepada Ayahnya, bahwa Ibunya sekarang dirawat di Rumah sakit. Selang waktu satujam Ayah Ani datang. Matanya merah, mulutnya berbau aroma alcohol. Tanpa disangka siapapun Ayahnya menangis diatas ranjang Ibunya, tangis yang bukan seperti biasa saat Ayahnya merengek minta dimaafkan, Ibu menagis, Ani juga tidak mau ketingglan. Suasana tiba tiba seperti romantisme dalam roman roman picisan FTV. Sejak saat itu keluarga kecil itu berangsur membaik, Ayah Ani sudah tidak pernah membawa wanita kerumah saat pagi hari, walau kadang masih pulang dengan aromah alcohol, tapi intensitasnya berkurang, yang biasanya setiap hari mabuk,  sekarang satu bulan satu kali hal itu baru terjadi. Baru diketahui oleh Ani  Tangisan dan penyesalan Ayah Ani itu terjadi saat ia mabuk, dan tiba tiba semua kenangan dengan Ibu ani saat pacaran, menikah, hingga lahirlah seorang perempuan bernama Ani, hal itu yang membuat muncul penyesalan Ayah Ani. Memang, wahyu kadang datang tidak harus saat seorang itu tengah khusuk beribadah. Hak penuh dari “ yang ngecat Lombok “ kalau kata Sapadi Djokodamono.

Tapi di lain sisi, mungkin kelaurga kecil itu akan segera mendapatkan seorang bayi, entah laki laki atau perempuan. Karena diam diam saat Ayah Ani membawa pulang perempuan ke rumah saat rumah sepi, Ani sering tidak sengaja melihat live show film porno Ayahnya dan seorang perempuan. Diam diam Ani yang awalnya jijik mulai terbiasa, dan akhirnya masuk pada fase menikmati, kadangkala mendengar desahan percintaan terebut Ani yang belum menginjak  17 tahun itu terangsang dan ikut masturbasi seperti yang dicontohkan pada film porno yang dipinjamnya dari pacarnya sendiri, seorang angota geng motor dikawasan tersebut. Dan tanpa ada yang tau, Ani kadang kadang bercinta dengan pacarnya dirumahnya sendiri saat Ibunya bekerja banting tulang dan Ayahnya sedang mabuk mabukan. Dan nampaknya Ani sudah mulai ketergantungan dengan hubungan intim tersebut. Dan karena Ani bukan bawang putih yang sempurna pada cerita “bawang merah bawang putih”

untuk selanjutnya

TV untuk JONI

Selasa, 30 September 2014

‘Le, telephisyi ini harus bapak jual, bapak ndak kuat lagi kalau harus membayar tagihan tagihan listrik itu” Pak Husein dengan nada sedikit mengiba merayu pada anaknya si Joni yang dari tadi terus menangisi televisi yang akan dijual. Joni sangat sayang kepada televisi tersebut walaupun bukan bapaknya sendiri yang membelinya, mana mampu keluarga Pak Husein beli televisi, makan saja kadang masih harus berhutang. Televisi tersebut diperoleh dari program televisi “oprasi rumah” yang memperbaiki rumah rumah reot dengan cepat dan memberikan juga prabotan prabotan elektronik untuk si pemilik rumah tersebut. Sebenarnya bukan Cuma televisi tersebut yang diberikan pada Pak Husein, tapi masih ada kulkas, mesin cuci dan beberapa yang lain, tapi Pak Husein sudah menjualnya karena tidak mampu menangung biaya listriknya, sebetulnya istri Pak Husein pun sedikit cemberut saat Pak Husein menjual prabot prabot tersbut, karena nanti sudah tak bisa lagi pamer prabot prabot tersebut pada tetangganya. Tapi apa mau dikata, barang itu harus dijual, isrtri Pak Husein juga sudah tak sanggup terlilit hutang, mending uangnya untuk beli gincu.
Sekarang hanya televisi itu yang tertinggal, barangnya memang tak sebesar mesin cuci atau kulkas tapi diam diam Joni dan istri Pak Husein sudah mengkultuskan televisi tersebut. Televisi tersebut tidak boleh digeser sedikitpun, apalagi mau dijual, bisa ngamuk ngamuk nanti 2 orang jemaah televisiiyah dirumah tersebut. Yang menjual nanti pasti dicurigai : dungu, tidak modern , tidak ngeti perkembangan zaman.
Televisi ini berbeda dengan prabot lain, mempunyai daya pikat yang lain, sampai sampai Bu Husein tidak bisa ikhlas seperti saat Pak Husein menjual prabot prabot yang lain, sikap Bu Husein sama seperti Joni, ngambek. Karena jika televisi itu dijual, otomatis Bu Husein tidak bisa lagi menonton acara gossip dan menceritakan dengan fasih kepada tetangga tetangganya tentang cerita cerita terbaru para selebritis. Maklum di perkampungan kumuh dekat TPA yang ditinggali keluarga Pak Husein televisi merupakan hal istimewa. “Nanti ibu akan bekerja mencari rongsokan lebih giat, Pak, asal telephisyi itu jangan dijual, Ibu nanti ndak bisa nonton Gosip sama sinetron” “ tapi kan, Bu, uangnya bisa buat yang lain, atau ditabung” “ Ya nanti tetep nabung, Pak, nanti kita makannya ngirit, ndak usah pakek telor, sayur saja sudah cukup, terus Joni ndak usah diberi uang jajan, iya gak, Jon ? “. Joni mengangguk senang, mendengar ibunya pun senada dengan Joni, raut muka Joni sedikit meringis dan tangisnya mulai mereda seperti seorang pengutang lolos dari tukang kredit.
 Mendengar itu Pak Husein seperti disambar petir, tiba tiba  kepalanya pusing ndak karuan mikir kelakuan anak dan istrinya yang mati matian membela TV itu melebihi nasip perutnya sendiri. Istrinya yang dikira akan bersikap arif, ternyata juga setali tiga uang dengan Joni, nampaknya istrinya sudah terperangkap oleh kemajuan. Padahal Pak Husein anak yang paling tua, dia harus menanggung 3 adiknya yang ada dikampung tinggal bersama ibunya. Jika begitu keadaanya terus, lalu bagaimana adik adik pak Husein , juga ibunya yang sekrang mulai sakit sakitan. Sekarang rasanya pria yang berumur 30 tahun tersebut sendirian, rasanya mau pergi saja, kabur, hidup sendiri pun tak apa asal ndak sepusing ini.
Dengan keadaan rumah yang seperti itu Pak Husein tidak tahan, daripada dia ngamuk ngamuk dirumah, dia memilih pergi cari warung untuk ngopi dan merokok. Diwarung kopi John yang berada tak jauh dari rumahnya, Pak Husein menyabarkan hatinya dan menjernihkan pikirannya ditemani sebatang rokok. Mukanya kusut, pikiranya blingsatan kemana mana. “ kenapa, Pak ? kok kayak pusing begitu” Tanya si John basa basi “oh.. ndak papa kok” , Pak Husein menutupi kegelisahannya, karena menurutnya masalah dapur ndak enak kalau dibawa keluar, malah malah jadi bahan omongan nanti.  Pak Husein melamun, membayangkan andai saja dulu dia tidak mensetujui stasiun TV tersebut, untuk rumahnya diperbaiki yang dibenakknya itu adalah sebuah pertanda hidupnya akan lebih baik dan makmur. Andai saja itu semua tidak terjadi, anak dan istrinya tidak akan mengenal TV dan tidak kecanduan seperti ini, dan masih banyak andai saja yang lain yang berkecamuk dalam pikiran pikiran Pak Husein yang penuh penyesalan tersebut. “ John kamu jangan mudah tertipu ya sama yang dikatakan kemajuan, itu menipu, jangan mudah percaya, kemajuan itu candu, kalau kamu tidak mampu mengendalikan, kamu yang akan jadi robot dari perkembangan itu” , John bingung tiba tiba Pak Husein nyletuk kayak gitu, seperti kangslupan seorang budayawan. Tapi John menggapnya angin lalu, dpikirnya Pak Husein hampir gila digilas kemiskinan. Pak Husein tanpa berucap lagi hanya meninggalkan uang tigaribu diatas meja.

Pak Husein kembali kerumahnya dengan langkah gontai, masuk kedalam ruang tamu dan juga sebagai ruang keluarga itu, dia duduk melihat anak dan istrinya sudah kembali seperti biasa, berebut remot TV, yang satu kepengen nonton joget dan yang satu kepingin nonton acara gosip. Minggu pagi yang mendung itu mendukung suasana Pak Husein yang juga kelabu. Dia duduk lunglai pada kursi tamu sekaligus kursi ruang keluarga tersebut. pikirannya ndak karuan blingsatan kemana mana. Dia sudah tidak kenal istrinya sendiri, itu yang dia tau. Dan ia mulai menyimpan dendam dengan istrinya sendiri.
untuk selanjutnya
 

Most Reading